Social Icons

Pages

Minggu, 03 Juni 2012

Buku Barcelona Jilid VII

Tanpa Dirinya, Takkan Ada Lionel Messi, Xavi, Andres Iniesta, Atau Pep Guardiola

Barcelona harus berterima kasih kepada Johan Cruyff atas sukses mereka beberapa tahun terakhir.

Johan Cruyff (PROSHOTS
PROSHOTS
Inilah bagian ketujuh dari ekstrak buku terbaru Graham Hunter, Barca: The Making of the Greatest Team in the World, yang menceritakan tentang bagaimana sukses Barcelona saat ini dibangun oleh seseorang bernama Johan Cruyff.

Tanpa dia, tidak akan ada Pep Guardiola, tidak ada Lionel Messi, tidak ada Xavi maupun Andres Iniesta. Mereka akan dinilai terlalu lambat, terlalu kecil – seperti para pemain sepakbola meja.

Si jenius dari Amsterdam menciptakan kondisi yang memungkinkan para pemain yang luar biasa ini diakui dan menjadi pusat dari nilai-nilai FC Barcelona. Tanpa Cruyff, cerita ini tidak akan pernah ada.

Bahkan era terbaru dan terbesar Barcelona memiliki DNA yang berjalan sesuai dengan caranya, yaitu cara berlatih dan bermain, bagaimana merekrut pemain dan staf, serta kenapa hiburan hanya berada sedikit di belakang kemenangan dalam daftar prioritas mereka.

Dua kali membuat kejutan di Camp No. Pertama, pada 1974, ketika Barcelona membuatnya menjadi pemain berharga US$1 juta pertama. Kedua, pada 1988, ketika dia kembali sebagai pelatih dengan keberhasilan yang belum pernah terjadi sebelumnya, seperti sering memenangkan liga pada detik-detik terakhir penutupan musim dan biasanya membuat malu Real Madrid, sang Goliath yang menjadi rival pasukan David milik Cruyff. Empat trofi kejuaraan UEFA, termasuk yang paling penting ketika menekuk Sampdoria, yang mempunyai pemain bintang sekaliber Luca Vialli dan Roberto Mancini, untuk memenangkan Piala Eropa (sekarang bernama Liga Champions) pada 1992, sekaligus yang pertama untuk Barcelona.


Dari pemain menjadi pelatih menjadi penasihat | Cruyff, legenda Barca dengan tiga peran
Tidak ada Cruyff, tidak ada tim impian. Tidak ada Cruyff, tidak akan ada pembinaan cantera (pemain muda) yang berlatih dan memainkan sepakbola menghibur. Tidak ada Cruyff, tidak ada Juan Laporta (presiden klub paling sukses). Tidak ada Cruyff, tidak ada Frank Rijkaard dan pertolongan pada klub yang mulai "mati lemas" akibat kebodohan sendiri. Tidak ada Cruyff, tidak ada Guardiola. Pemain yang beralih menjadi pelatih ini bahkan takkan mendapat kesempatan bermain di tim utama kalau bukan pertaruhan serta visi pelatih Belanda dan tangan kanannya, Charly Rexach.

FC Barcelona dipenuhi murid-murid Cruyff di setiap tataran pembinaan, pengembangan, dan administrasi. Guardiola, Andoni Zubizarreta, Guillermo Amor, Eusebio Sacristan, Juan Carlos Unzue, Oscar Garcia, Tito Vilanova, dan Rexach adalah beberapa contohnya. Selain itu, Sergi Barjuan pergi meninggalkan klub pada Juli 2011.

Jangan salah, dunia masih menyaksikan hasil benih yang ditanamnya pada 1988 silam. Ketika Cruyff kembali sebagai pelatih, pada dasarnya dia tidak setuju dengan cara Barcelona mengelola pembinaan pemain muda. Dia bersikeras bahwa tidak masuk akal kalau semua tim kategori umur dilatih sesuai sistem yang diterapkan pelatih masing-masing. Itu bukan metode FC Barcelona. Ketika itu, ada 13 level kelompok usia dengan setiap pelatih sehingga artinya mereka bisa bermain dengan 13 gaya yang berbeda-beda dan anak-anak harus kembali mengulanginya setiap tahun.

Cruyff mengatakan kepada petinggi klub: a) setiap tingkat pemain muda harus dilatih berdasarkan konsep yang sama dan dalam formasi yang sama yaitu 3-4-3; b) anak-anak berbakat harus didorong dari zona nyaman mereka dan bermain di kelompok umur satu atau bahkan dua tingkat di atas mereka; dan c) para "mutiara akademi", atau "perlas de la cantera", perlu dipromosikan ke tim utama.


Tidak ada Cruyff, tidak ada Dream Team. Tidak ada Cruyff, tidak ada cantera. Tidak ada Cruyff, tidak ada Joan Laporta. Tidak ada Cruyff, tidak ada Frank Rijkaard. Tidak ada Cruyff, tidak ada Pep Guardiola


Mereka menerapkan sistem posisi bermain dengan satu, atau paling banyak dua, sentuhan peredaran bola, konsep sweeper-keeper, mempersempit ruang, semua prinsip yang berkembang di bawah kepelatihan Guardiola dan Rijkaard. Strategi ini, ditambah semua pemain yang bermain menyerang, kreatif, sepakbola cepat yang menekan dan umpan-uman akurat, adalah warisannya yang abadi.

Cruyff membentuk kembali struktur dan isi pembinaan pemain muda FC Barcelona dan beberapa alumni, yang meraih trofi Liga Champions di bawah Rijkaard dan Guardiola, sudah berada di dalam sistem cantera yang dirintis ulang oleh Cruyff ketika secara kontroversial dia dipecat di ruang ganti saat siap berlatih pada Sabtu, 18 Mei 1996.


Tanpa Cruyff, tidak akan ada Pep Guardiola, tidak ada Lionel Messi, tidak ada Xavi maupun Andres Iniesta. Mereka akan dinilai terlalu lambat, terlalu kecil – seperti para pemain sepakbola meja


Pada hari itu, Xavi Hernandez yang berumur 16 tahun adalah bagian dari sistem pembinaan pemain muda barca dan sudah lima tahun berlatih di La Masia. Andres Iniesta sedang dipantau. Victor Valdes sudah empat tahun di dalam sistem pembinaan Camp Nou dan seorang pemain 17 tahun bernama Carles Puyol baru saja dipantau dan menandatangani kontrak untuk bermain sebagai sayap.

Sistem Cruyff tidak hanya membuat pemain berlatih dengan baik ketika terpilih, tetapi juga mampu mengubah kriteria dalam pemantauan bakat Barcelona. Hasilnya, sekarang klub lebih konsisten dalam memilih pemain muda terbaik, atau tepatnya yang paling sesuai dengan filosofi mereka, yang suatu hari akan menjadi tulang punggung dari sebuah tim terhebat di dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar